Konsep Manusia ‘Soleh’ dan ‘Muslih’ Menurut Al Ghazali


encyclopedia.com

Imam Al-Ghazali (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kitab Ihya Ulumuddin ternyata punya prespektif yang ‘genuine’ soal sosok manusia dalam kaitannya sebagai mahluk pribadi maupun makhluk sosial. Al Ghazali dalam kitab itu menjelaskan bahwa menjadi manusia yang baik (soleh/saleh) itu memang penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah menjadi manusia yang lebih untuh yakni saleh secara pribadi dan saleh secara sosial.

‘’Ada hikmah atau ajaran yang bisa dipetik ketika mempelajari kitab Ihya Umuluddin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini memang membahas sosok manusia secara utuh. Jadi tak hanya membahas soal tasawuf saja, Ihya Umuluddin ternyata juga membahas manusia daam kaitannya dengan soal interakaksi sosial, persoalan muamalah (hubungan antarmanusia) seperti halnya kemudian terkait dalam soal akad dalam bisnis (usaha) sampai soal politik,’’ kata Zumroh Najiyah Asrori (santriwati Ponpes Darun Najah Malang), pemenang lomba Musabqoh Kitab Kuning PKB’, di Jakarta, Sabtu (14/5).

Najiyah lebih lanjut mengatakan ada dua definisi ‘orang baik’ di dalam kitab itu, yakni ‘soleh’ dan ‘’muslih’. Dan dari dua dimensi definisi itu kemudian mencuatkan  perbedaan yang jelas. Orag ‘soleh’ menurut Imam Gazali adalah orang yang baik secara pribadi. Sedangkan oleh ‘muslih’ adalah orang yang baik secara pribadi serta sosial.

Atau dengan kata yang lain, ‘soleh’ adalah kualitas kebaikannya hanya untuk diri sendiri, sedangkan ‘muslih’ kualitas kebaikannya bisa merambah dan menjadi petunjuk orang lain atau masyarakat luas.

‘’Kalau ditanya mana yang lebih baik antara menjadi orang ’soleh’ atau ‘muslih’ jawabnya tentu saja orang yang ‘muslih’. Istilahnya adalah orang ‘muslih’ itu punya kedalaman sekaligus ketinggian tauhid yang kemudian diimplementasikan dalam kenyataan sosial kemasyarakatan,’’ kata Najiyah.

Category: Nasional
No Response

Leave a reply "Konsep Manusia ‘Soleh’ dan ‘Muslih’ Menurut Al Ghazali"