Tuesday 11th May 2021

Mahasiswi Kedokteran Asal Indonesia Belajar di Jerman Sambil Hafal Al Qur’an


Ika Damayanti (IST)


Sambil menimba ilmu kedokteran di Universitas Leipzig Jerman, Ika Damayanti menyelesaikan hafalan Al-Qur’an yang sudah dimulainya saat masih berada di MAN Insan Cendekia Gorontalo.

Aktifitas belajarnya yang padat di Jerman tidak menghalanginya untuk menambah hafalan ayat demi ayat. Al-Qur’an sudah menjadi sahabatnya sehari-hari.

Ia belajar Al-Qur’an di Masjid Al-Rahman Leipzig yang dibimbing  oleh beberapa temannya asal Suriah di akhir pekan. Ia juga melakukan muroja’ah; menyetorkan hafalannya di grup WhatsApp, MEMORIZING QURAN: Menghafal Quran 1 Hari 1 Ayat.

Nama lengkapnya Ika Damayanti Puasa. Ia dipanggil Ika, terkadang orang terdekat memanggilnya lebih singkat lagi “Ka”. Ika dari bahasa Sanskerta Eka artinya satu. Ia anak ke-1 dari tiga bersaudara. Damayanti terinspirasi dari Damai. Orangtuanya mengharapkan anak pertamanya menjadi jalan damai bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan Puasa adalah marga dari ayahnya Sumitro Puasa.

Setelah lulus SMP, awalnya ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ke SMA dengan tetap membawa nilai-nilai Islam. Namun beberapa hari setelah Ujian Nasional, salah satu temannya memberikan brosur MAN Insan Cendekia Gorontalo, disingkat MAN ICG. Ia bersyukur akhirnya berhasil lolos tes seleksi yang cukup ketat.

Komitmen MAN ICG menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi cerdas tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang luas dibuktikan dengan sejumah prestasi yang didapatkan para siswanya di ajang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ).

Pada MTQ Tingkat Kabupaten Bone Bolango yang diselenggarakanpada awal tahun 2012, kontingen MAN ICG yang mewakili kecamatan Tilongkabila kembali mengukir prestasi tertinggi dengan membawa pulang gelar juara di hampir seluruh kategori yang dilombakan dalam kegiatan tersebut.

Ika Damayanti Puasa waktu itu meraih Juara I pada cabang Hifdzil Qur’an atau menghafal Al-Qur’an untuk kelompok 10 Juz putri. Ia melengkapi daftar siswa ICG lainnya yang memperoleh juara untuk cabang Hifdzil Qur’an. Juara lainnya diperoleh ICG untuk cabang Tilawah, Fahmil Quran, Khottil Quran, dan Syarhil Qur’an.

Namun ada peristiwa yang tidak akan terlupakan saat Ika mengikuti lomba MTQ. Saat itu tepat tanggal 31 Maret 2012 pagi, ayahnya berpulang ke Hadirat Allah SWT.

“Saya masuk ke rumah pagi itu dengan rasa campur aduk, sudah lama saya tidak berbicara dengan ayah langsung maupun lewat telepon, dan ayah sekarat sambil memanggil manggil nama saya dan adik-adik saya tanpa meninggalkan pesan sebelum meninggal,” kata Ika.

Dari kecil Ika mengaku sudah banyak mendengar dan melihat proses belajar mengajar di luar negeri, khususnya saat saya les bahasa Inggris. Ia tertarik dengan budaya dan bahasa yang baru, serta jaringan komunikasi yang luas. Keinginan itu dipertemukan dengan presentasi dari beberapa duta mengenai pendidikan di Jerman. Saya pun mulai mencari info mengenai kuliah di Jerman.

“Jerman merupakan negara yang sangat menghargai para student, fasilitas dan kemudahan di Jerman bagi mahasiswa terbukti dengan dihapusnya biaya kuliah di hampir semua negara bagian. Kemajuan kesehatan di Jerman yang didukung dengan banyak research baru dan fasilitas berteknologi tinggi, menggolongkan Jerman sebagai negara dengan pelayanan medis terbaik. Setiap orang memiliki hak yang sama terhadap pelayanan medis, hal ini didukung juga oleh asuransi kesehatan yang wajib bagi setiap warganya,’ katanya

“Dengan banyak info yang saya dapat, saya akhirnya meminta jawaban dari Allah, jika keinginan saya kuliah kedokteran di Jerman memang sesuai dengan kehendak Allah maka semoga Allah memudahkan langkah saya untuk kesana,” kata Ika.

Walaupun ia sudah diterima di jurusan kedokteran Universitas Hasanuddin, hatinya tergerak untuk tetap merealisasikan mimpinya belajar di Jerman.

“Ahamdulillah atas izin Allah segala proses bisa saya lewati mulai dari belajar bahasa hingga diterima di Universitas tertua kedua di Jerman, Universität Leipzig (Universitas Leipzig).

Ika menimba ilmu Kedokteran di Universitas Leipzig, Jerman. Pendidikan kedokteran terdiri dari 12 semester, 6 tahun 3 bulan yang setara dengan master degree secara internasional. Ika berencana setelah lulus akan melanjutkan spesialisasi di Jerman juga 6 tahun dan siap kembali untuk membangun tingkat kesehatan masyarakat Indonesia.

Proses belajar di Jerman secara umum hampir sama dengan di Indonesia. Para civitas akademis sangat menghargai dan mendukung penuh orang dengan usaha dan kerjanya yang keras. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, tidak ada perbedaan usia dalam proses pendidikan di Jerman.

Ika Damayanti mulai menghafal Quran secara intensif saat masuk MAN ICG. Tahfidzul Quran adalah program setiap harinya, 30 menit sebelum proses belajar mengajar pagi hari dimulai dan 30 menit sebelum sholat Isya. Dalam program ini para santri dan santriwati mendapat buku hafalan, dimana setiap setoran hafalan atau murojaah tercatat di dalam buku itu.

“Fastabiqul khoirot, ya berlomba-lomba dalam kebaikan, beberapa teman-teman saya sudah hafidz sebelum beranjak ke MAN ICG, sehingga mereka menyetorkan hafalannya dengan penuh semangat, saya juga dengan semangat berusaha untuk memanfaatkan waktu itu dengan baik, hingga setoran saya telah melebihi target hafalan yang harus dicapai selama 3 tahun di MAN ICG,” kata Ika.

Pada 2012 saat diadakan kegiatan MTQ, saat itu Ika berumur 16. Ia mengikuti lomba tahfidz 10 Juz. “Saat itu hafalan saya 5 Juz, berarti saya harus mengejar 5 Juz dalam waktu singkat untuk mewakili MAN ICG,” katanya. Didukung oleh para hafidz hafidzah teman-temannya alhamdulillahIka bisa meraih juara 1 untuk bidang tahfidz atau hafalan Al-Qur’an.

Aktifitas menghadal Al-Qur’an masih dilanjutkan oleh Ika saat ini ketika berada di Jerman. Ia belajar Quran di masjid Al-Rahman Leipzig yang dibimbing  oleh beberapa temannya asal Siria di akhir pekan.

Secara intensif ia juga menghadiri pengajian muslimah Leipzig yang diadakan 2 minggu sekali, mengaji Al-Quran dan juga membahas Hadits. Selain itu, untuk murojaah saya menyetorkan hafalan saya di grup WhatsApp, MEMORIZING QURAN: Menghafal Quran 1 Hari 1 Ayat.

“Saya berencana menyelesaikan hafalan Quran saya dan bisa memperkenalkannya dalam terjemahan bahasa Jerman, khususnya di bidang kesehatan. Saya juga mendaftarkan diri di sebuah lembaga beasiswa Avicenna khusus untuk mahasiswa muslim, dalam rangka menjadi kader dan cendekiawan muslim yang berkarya dengan ilmu pengetahuan,” katanya. (Kemenag)*/suaranasional.com – 21/05/2016

***

Kemenag Akan Perluas Madrasah Aliyah Unggulan

Tugas Kemenag adalah mengontrol dan membina, sekaligus madrasah unggulan tersebut bisa menjadi percontohan

MAN Insan Cendekia

MAN Insan Cendekia

Hidayatullah.com–Keberadaan Madrasah Aliyah (MA) unggulan Insan Cendikia yang berprestasi tingkat internasional dan lulusannya bisa masuk universitas negeri papan atas turut mengangkat nama madrasah yang sebelumnya dianggap lembaga pendidikan kelas dua.

Dengan keberhasilan ini, Kementerian Agama akan terus menambah jumlah MA Insan Cendikia di seluruh Indonesia. Saat ini yang sudah beroperasi 3 MA, yang dalam proses pembangunan 20 sehingga total ada 23 MA di 23 provinsi yang seluruhnya akan beroperasi pada 2017.

Lalu bagaimana dengan 10 provinsi sisanya? Direktur Pendidikan Madrasah Kemenag Nur Kholis Setiawan mengatakan, dalam diskusinya dengan Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menag menyampaikan bahwa dirinya akan mengusahakan 10 provinsi sisanya dengan bekerjasama dengan gubernur.

“Kalau sudah ada madrasah yang bagus, kita kelola dari sini, menunya dari sini, sama persis rasanya, hanya outletnya yang beragam, bermitra dengan pemerintah daerah, bisa maksimal,” katanya dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (15/12/2014) dikutip Antara.

Menag menambahkan, melalui kerjasama dengan pemerintah, maka otomatis sustainabilitas madrasah tersebut juga terjaga.

“Pemerintah daerah tidak selesai hanya menyerahkan 10 hektar pada kita, tetapi mereka juga berkewajiban membangun infrastruktur jalan, listrik, air, sanitasi, beasiswa dan seterusnya,” tandasnya.

Selanjutnya, tugas Kemenag adalah mengontrol dan membina, sekaligus madrasah unggulan tersebut bisa menjadi percontohan. Ia menjelaskan, Madrasah Insan Cendikian Serpong membantu madrasah yang ada di sekelilingnya sehingga saat ini, tak ada lagi madrasah buruk di seputaran Serpong, Tangsel, Banten.

“Tolak ukurnya mudah, dari hasil Ujian Nasional. Tidak ada angka ujian Madrasah Aliyah yang buruk. Tidak pernah dibawah 99 persen. Ini artinya serius membina,” katanya.

Bahkan bukan hanya membantu madrasah di sekitarnya, Insan Cendikia Serpong atau Gorontalo juga diminta pertimbangan oleh daerah lain seperti di NTT.

“Skema begini mudah melakukan pembinaan karena ada imamnya. Mereka jadi mercusuarnya. Saya yakin strategi pengembangannya akan jauh lebih efektif karena roadmapnya jelas,” ujarnya.*/Hidayatullah.com – Selasa, 16 Desember 2014

Rep: Anton R

Editor: Cholis Akbar

***

Category: Nasional
No Response

Leave a reply "Mahasiswi Kedokteran Asal Indonesia Belajar di Jerman Sambil Hafal Al Qur’an"


Top