Pemuda Muhammadiyah: Kebijakan Warung Dibatasi Tutupnya itu Toleran


Republika/Wihdan Hidayat

 Beberapa warung makan banyak yang memilih tutup pada hari pertama Ramadhan di kawasan perkantoran Jakarta, Senin (6/6). (Republika/Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menyayangkan reaksi pemerintah dan masyarakat menanggapi kasus penyitaan barang dagangan Ibu Saeni penjual warteg yang berjualan siang hari saat bulan puasa di Serang, Banten. Sebab, masyarakat dan pemerintah menilai, tindakan yang dilakukan Satpol PP beberapa hari lalu dinilai arogan terhadap Ibu Saeni, dan tidak toleran terhadap masyarakat yang tidak menjalankan ibadah puasa.

"Jangan tiba-tiba menyalahkan itu yang buat kebijakan warung dibatasi tutupnya (pada siang selama Ramadhan berarti), tidak toleran. Justru sangat toleran. Itu unik lho, eksotisme kultural," kata Dahnil dalam //Twitter// pribadinya, Rabu (16/5).

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki bermacam keberagaman, sehingga jangan dipaksakan untuk menjadi sama dan serupa. Sebab, keberagaman tersebut merupakan kekuatan masing-masing daerah. Ia berharap, masyarakat dan pemerintah dapat mengasah kecerdasan kultural. Salah satunya, melihat aturan warung makan buka selama Ramadhan sebagai potensi eksotisme.

"Warung diatur jam bukanya, atau warung buka //ditambahin// dengan pesan-pesan penghormatan kepada yang berpuasa dan lain-lain. Itu kan bisa menjadi eksotisme kultural," tutur Dahnil.

Ia menyayangkan reaksi media dan pemerintah pusat yang seolah-oleh menyalahkan eksotisme kultural yang belum dikapitalisasi itu. Ia mempertanyakan, kenapa masyarakat dan pemerintah tidak melihat potensi dibalik pemaknaan 'keberagaman' yang diterapkan masing-masing daerah.

"Saya menyebutnya kapitalisasi eksotisme kultural," ujar Dahnil.

Category: Nasional
No Response

Leave a reply "Pemuda Muhammadiyah: Kebijakan Warung Dibatasi Tutupnya itu Toleran"