Puasa Jadi Momentum Tahan Diri dari Sifat Konsumtif

0 92


Republika/Rakhmawaty La'lang

Tunjangan Hari Raya atau THR kerap habis hanya untuk membeli kebutuhan konsumtif. Bijakkah menghabiskan THR seperti itu?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perilaku konsumtif masyarakat cenderung meningkat di bulan Ramadhan. Meskipun harus menahan makan dan minum satu hari penuh pengeluaran keuangan cenderung tinggi. Belanja kebutuhan pokok maupun lainnya justru meningkat.

Ketua Bidang Dakwah Majlis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis tidak menampik dengan situasi tersebut. Hal itu memang paradok ketika puasa.

"Seharusnya mengurangi konsumerisme tapi nyatanya tambah banyak mengkonsumsi," ujar Cholil kepada Republika.co.id, Jumat (17/6).

Puasa, kata Cholil, mengajarkan agar umat Islam dapat memilah antara kebutuhan dan keinginan. Karena itu, Cholil menganjurkan supaya umat Islam cerdas apabila yang berbelanja.

Cholil menjelaskan, puasa tidak hanya mengandung makna perintah dalam konteks ibadah. Namun, umat Islam diminta agar menggunakan rasio dalam merespon realitas. Kehidupan modern membuat orang tidak berpikir jangka panjang. Orang lebih ingin meraih kepuasaan jangka pendek.

"Sehingga mengabaikan persiapan masa depannya," kata Cholil.

Dia menilai saat ini sudah memasuki era konsumerisme. Sehingga mendorong untuk terus berbelanja. Padahal, lanjutnya, Alquran menganjurkan agar memikirkan masa depan. Perilaku seseorang, Cholil menegaskan, akan menentukan masa depan seseorang. Untuk itu, jika seseorang menghabiskan pendapatannya untuk keinginan sesaat dikhawatirkan masa depannya suram.

"Karena sudah tidak ada lagi uang yang dicadangkan untuk masa depannya," tuturnya.

Puasa, kata dia, dapat mengendalikan nafsu seseorang dari perilaku konsumtif. Hal iti dapat menyelamatkan keturunan dari bahaya konsumtif. "Pada hakikatnya puasa itu sendiri perintah Allah SWT agar kita mengendalikan tingkat konsumsi," ucapnya.

Category: Nasional
No Response

Leave a reply "Puasa Jadi Momentum Tahan Diri dari Sifat Konsumtif"