Thursday 21st October 2021

Warung Minang Lebih Sadar Beragama

0 81


Ilustrasi : RM Padang Sederhana/lokanesia.com


Oleh: Fadh Ahmad Arifan[1]

Ketika tulisan ini saya buat, bertepatan dengan polemik razia Satpol PP kepada warung-warung nakal yang nekad buka di siang hari. Harap diketahui, Razia yang mereka lakukan semata-mata menegakkan Peraturan Daerah (Perda) di kota Serang, Banten.  Akan tetapi oleh media sekuler dan pengamat berpaham liberal digiring opini seakan-akan tindakan Satpol PP kota Serang tersebut tidak manusiawi dan merampas rezeki pemilik warung yang barang dagangannya disita.

Lagi-lagi mereka berlindung dibalik kata “toleransi”. Kata mereka toleransilah kepada wong cilik yang mengais rezeki di siang hari. Umat Islam tidak usah manja dengan meminta penutupan warung di siang hari. Digalanglah gerakan donasi uang untuk pemilik warung yang kena razia, terkumpul lebih dari 150 juta rupiah. Bagi Alifurrahman dalam artikelnya berjudul, “Bodohnya Gerakan donasi buat Ibu warung Terkena Razia”, gerakan donasi seperti ini adalah tindakan bodoh karena sudah di luar batas ekspresi. Selain itu, ketika ada seorang warga melanggar Perda malah diberi hadiah uang sebesar itu.

Menarik untuk dicermati adalah sikap warga Nahdlatul ulama di kota santri tersebut, mengapa tidak bereaksi sama sekali atas tindakan Satpol PP? Ternyata mereka telah merilis edaran berisi himbauan agar warung dan tempat hiburan malam tutup dalam batas waktu yang ditentukan selama bulan puasa. Sebuah surat tertanggal 25 mei 2016 yang dikeluarkan Pengurus cabang NU  kota Serang beredar di media sosial. Ditujukan kepada bapak walikota Serang. Elit-elit PCNU meminta pemerintah kota Serang:

  1. menjelang dan selama Romadhon melakukan operasi peredaran miras dan tempat tempat yang digunakan untuk hiburan malam
  2. tidak memberikan ijin tempat di manapun di wilayah kota Serang yang digunakan untuk hiburan malam yang dapat mengganggu atau menodai kesucian bulan romadhon di kota Serang
  3. melakukan operasi penutupan selama romadhon kepada warung warung makanan/warung siap saji di siang hari dalam batas waktu yang ditentukan, baik warung kaki lima, warteg dan yang di Mal
  4. tidak melakukan kegiatan yang bersifat hiburan di masjid atau halaman masjid dalam bentuk apapun kecuali kegiatan-kegiatan pengajian.

Pertama-tama sebagai orang berdarah Madura, saya menaruh hormat kepada ras/bangsa Minangkabau yang membuka usaha Masakan padang. Tanpa dibuatkan Perda dan himbauan toleransi puasa Romadhon, mereka istiqomah menutup kedainya. Baru buka sekitar satu jam menjelang adzan Maghrib. Beda dengan yang lain. Meski ber KTP Islam, tanpa malu membuka warungnya walau ada Perda maupun himbauan MUI. Berarti orang Minangkabau menjaga Muru’ah dan lebih sadar beragama dalam artian toleransi kepada Muslim yang fokus berpuasa di bulan Romadhon.

Bukan hanya itu, pemilik masakan Padang juga saya dapati memberikan seporsi masakan Padang kepada pengemis, kaum dhuafa dan musafir.

Apa yang membuat orang-orang ketagihan masakan padang? Tentunya karena bumbu rendangnya. Sesekali ayah saya dengan bercanda ia berkata “seperti ada ganjanya, terasa gurih dan nikmat”. Jujur saya paling terlambat mencicipi lezatnya masakan Padang. Tahun 2012 lah awal mula saya ketagihan kuliner No 1 di dunia ini. Berawal dari suguhan makan siang saat Workshop metodologi Majelis Tarjih yang saya ikuti di UMM Malang. Dari harga yang seporsinya Rp 10 ribu sampai 17 ribu sudah pernah saya cicipi. Cita rasa tak jauh berbeda. Atas kemurahan hati ibu pula, saya dan adik-adikku pada 2012 pernah sebulan sahur dengan masakan Padang. Adapun pengalaman puasa tahun 2016 ini belum sempat merasakan kembali sahur dengan masakan Padang.

Masakan padang masuk dalam daftar menu berbuka puasa di masjid Ahmad dahlan Yogyakarta. Sedikitnya 5 kali selama bulan Romadhon, jamaah masjid di sana bisa berbuka puasa dengan masakan Padang dan Es Buah. Di luar negeri, mereka yang kangen dengan masakan Padang harus berbuka dan sahur di Kedutaan RI terutama kedutaan di Kuala lumpur. Di Phnom penh, Kamboja malah ada restoran khusus yang menjual masakan padang, namanya “Padang house”. Pemiliknya bukan orang Minangkabau, tetapi orang Malaysia. Bergeser ke benua Eropa, lebih tepatnya di kota Den haag-Belanda, disana terdapat satu satunya restoran “Salero minang” yang menjual masakan Padang. Disana tersedia kikil, rendang, gulai kepala ikan dan sambal lado. Restoran ini baru didirikan pada tahun 2011. Wallahu a’lam


[1] Penulis adalah Pengajar Aqidah akhlak di MA Muhammadiyah 2 kota Malang

***

Category: Nasional
No Response

Leave a reply "Warung Minang Lebih Sadar Beragama"


Top